Home » , , » Panduan Pendakian Gunung Mekongga

Panduan Pendakian Gunung Mekongga

PANDUAN PENDAKIAN GUNUNG MEKONGGA


Letak Geografis

     Gunung Mekongga terletak di Desa Tinukari, Kec. Ranteangin, Kab. Kolaka Utara. Gunung Mekongga merupakan pegunungan  yang membentang luas  meliputi beberapa kabupaten yaitu Kab. Kolaka Utara, Kab. Konawe dan Kab. Konawe. Pegunungan Mekongga memiliki tiitk ketinggian 2620 MDPL . puncaknya murupakan titik tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara.
    Nama mekongga diambil dari nama suku tertua di Sulawesi Tenggara yakni suku mekongga yang merupakan penghuni pertama wilayah daratan Sultra. Pegunungan mekongga menjadi hulu dari ribuan mata air sungan yang mengaliri beberapa kabupaten dan kecamatan. Sumber air itulah yang menjadi tumpuan bagi sektor-sektor pertanian di wilayah daratan Sulawesi Tenggara
    Sejak awal 1995, jalur ke puncak mekongga mulai dirintis oleh beberapa penggiat alam terbuka. Perintisan jalur memanfaatkan jalan perusahaan PT. HBI (Hasil Bumi Indonesia) yang sebelumnya sudah beroperasi di wilayah pegunungan mekongga. Jalan yang telah dibentuk perusahaan tersebut membentang luas meliputi 40 % wilayah pegunungan mekongga sampai ketinggian ± 2000 MDPL.
      Seiring berjalannya waktu, sebagian besar pendaki gunung lebih memilih jalur pendakian melewati Desa Tinukari, Kec. Ranteangin. Meskipun ada beberapa alternative jalur seperti melewati Wawo dan Walasiho. Pendakian melewati jalur Desa Tinukari menjadi pilihan utama bagi seluruh penggiat alam tebuka yang akan menuju puncak Gunung Mekongga.

Aksesibilitas..
1. Bandara Halu Oleo – Desa Tinukari

          Bagi pendaki yang menempuh jalur udara, setelah mendarat di Bandar Udara Halu Oleo – Kendari, dapat mengikuti jalur transportasi sebagai berikut :

2. Pelabuhan Laut Kendari – Desa Tinukari
      Bagi pendaki yang menempuh jalur laut dari Kota Kendari, setelah tiba di Pelabuhan Kendari dapat langsung menaiki angkot jurusan Mandonga dengan tariff Rp. 4 ribu /org. Kemudian turun di Bundaran Mandonga. Selanjutnya berganti kendaraan jurusan Terminal Puuwatu dengan tariff Rp. 4 ribu / org. Selanjutnya dapat mengikuti jalur transportasi seperti table diatas.

3. Pelabuhan Ferry Kolaka – Desa Tinukari
      Bagi pendaki yang menempuh jalur laut dari Kota Kolaka, setelah tiba di Pelabuhan Ferry Kolaka dapat menumpang Angkutan kota jurusan Terminal Lama dengan tariff Rp. 5 ribu / orng. Setelah sampai di Terminal Lama, jalur transportasinya dapat mengkuti seperti tabel diatas.


SEKILAS MENGENAI GUNUNG MEKONGGA

     Gunung Mekongga merupakan tipe pegunungan tropis yang membentang luas meliputi 2 Kabupaten yaitu Kab. Kolaka dan Kab. Kolaka Utara. Pegunungan ini terletak di wilayah utara Provinsi Sulawesi Tenggara dan puncaknya merupakan titik tertinggi di Provinsi ini. Berdasarkan hasil pemetaan Bakosurtanal, titik tertingginya berada pada ketinggian 2620 MDPL. Jalur akses menuju puncaknya dimulai dari Desa Tinukari, Kec. Ranteangin, Kab. Kolaka Utara.
    Perintisan jalur ke puncak mekongga telah dimulai sejak tahun 1994 yang dilakukan oleh gabungan pencinta alam Sulawesi Tenggara. Sebelum dibukanya jalur pendakian, di pegunungan mekongga telah ada aktifitas pengelolaan kayu oleh PT. HBI yang membuka akses jalan perusahaan dari beberapa desa sampai pada ketinggian mendekati puncak Gunung Mekongga. Jalur pendakian ke Puncak Mekongga sebagian besar mengikuti alur jalan perusahaan HBI yang kini terlah tertutup rapat oleh semak belukar.
     Di pegunungan mekongga terdapat beberapa kawasan karst yang luas dan masih misteri. Telah banyak penelitian dan explorasi yang dilakukan oleh peneliti dan pencinta alam baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin mengungkap rahasia pegunungan mekongga. Sampai sekarang penelitian tersebut masih sering berlangsung dan memberikan ilmu pengetahuan terbaru bagi peneliti.
    Terdapat banyak flora dan fauna yang bisa disaksikan pendaki saat berada di tengah jalur pendakian. Fauna yang paling tersohor adalah Anoa (Bubbalus Depresicornis). Anoa merupakan hewan kebanggaan Sulawesi Tenggara. Ia hidup mengembara di hutan-hutan tropis baik di daratan Sutra maupun di Pulau Buton. Di wilayah pegunungan mekongga merupakan markas utama habitat Anoa. Tercatat di tempat ini merupakan populasi terbanyak Anoa di Sultra.
    Anoa tinggal di dataran menengah dan dataran tinggi. Dari ketinggian 200 s.d 2.500 MDPL. Untuk dataran menengah, postur tubuhnya menyerupai anak sapi dan berwarna cokelat tua sedangkan Anoa yang tinggal di atas ketinggian 1500 MDPL postur tubuhnya kecil seperti kambing dewasa dan berwarna hitam pekat. Anoa hidup mengembara dan tinggal di gua-gua batu. Selain anoa terdapat juga species yang mempesona yaitu Rangkong Sulawesi (Rithiceros Cassidix) yang terbang bebas diseluruh ruas pegunungan mekongga. Ada juga Monyet hitam Sulawesi (Macaca Creata) yang banyak bergantungan di sepanjang jalan. Jenis burung nuri dan burung kakatua banyak juga terdengar dan kadang menampakkan diri. Selain itu masih banyak fauna khas lain yang mendiami kawasan pegunungan mekongga.
    Cuaca di pegunungan mekongga relative stabil mengikuti cuaca pada umunya. Namun untuk kawasan hutan lumut sering terjadi hujan singkat pada malam hari. Ini dikarenakan pergerakan awan dan kabut yang sangat padat di atas kawasan hutan lumut. Terdapat sebuah sungai besar yaitu Sungai Ranteangin yang menjadi tantangan awal pendaki sebelum memasuki hutan pegunungan mekongga. Pada bulan Desember sampai bulan April ketinggian sungai rata-rata mencapai paha orang dewasa. Sedangkan pada bulan lainnya setinggi betis orang dewasa. Ketinggian dan kecepatan air sungai mengikuti curah hujan yang terjadi di hulu sungai.
    Pada puncak musim hujan, ketinggian sungai naik drastis, kecepatan sungai tidak dapat dibendung oleh kekuatan fisik. Kondisi ini menjadikan sungai ranteangin sama sekali tidak bisa diseberangi dengan cara apapun. Oleh karena itu sebelum melakukan pendakian, pastikan informasi mengenai kondisi sungai telah pendaki dapatkan. Pendaki dapat menghubungi pihak Basarnas Kolaka dan Kepala Desa Tinukari untung mengetahui kondisi terkini Sungai Ranteangin. Pada musim kemarau, kepadatan kabut di hutan lumut cukup menyengat dan menusuk. Berbeda dengan kabut pada musim hujan yang lembab dan sejuk.
    Perjalanan ke puncak Gunung Mekongga sangatlah panjang. Berdasarkan analisa peta dan jalur, jarak tempuh dari Desa Tinukari sampai Puncak yaitu ± 26 Km, melewati 14 Karvak yang berkontur rapat. Jalur pendakian gunung mekongga sebagian besar melewati sisa-sisa jalan PT. HBI. Waktu tempuh normal pulang pergi yaitu 7 hari.
         
         
Sekilas Mengenai Desa Tinukari

Desa Tinukari terletak di Kec. Ranteangin, Kab. Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Jaraknya ± 271 Km dari Kota Kendari, 100 Km dari Kota Kolaka dan 50 Km dari Kota Lasusua.
Desa Tinukari berada pada jalur trans provinsi yang menghubungkan Kab. Kolaka dan Kab. Kolaka Utara. Desa ini berada pada ketinggian 17 MDPL. Sebagian besar penduduknya mayoritas petani cokelat. Berbagai suku mendiami desa ini yaitu Suku Tator, Suku Bugis Makassar, Suku Tolaki Mekongga.
Wilayah Desa Tinukari berada pada jalur lintasan Sungai Ranteangin dan beberapa sungai kecil lainnya.

JALUR PENDAKIAN
1.  Desa Tinukari – POS 1
        Perjalanan dimulai dari Desa Tinukari dengan menyusuri jalan aspal ke arah utara lalu berbelok kanan sebelum jembatan besar. Selanjutnya pendaki akan melewati jalan masyarakat sejauh 1.5 Km dengan menyusuri perkampungan dan perkebunan cokelat (kakao). Jalan setapak akan berakhir di bibir sungai yang menandakan bahwa pendaki harus memulai menyebrangi Sungai Ranteangin. Pada penyebrangan pertama lebar sungai 30 M dengan kedalaman normal diatas lutut orang dewasa. Setelah penyebrangan pertama, jalur akan menuntun pendaki kepenyebrangan kedua dengan melewati sungai yang sama. Jarak antara penyebrangan 1 dan 2 sekitar 90 M. di penyebrangan kedua ini kedalaman sungai dibawah lutut.
       Setelah melewati penyebrangan kedua, jalur kemudian melewati bibir sungai, melewati bongkahan batu dan meyusuri sisa-sisa kebun warga sampai akhirnya sampai kembali dibibir sungai untuk melakukan penyebrangan ketiga. Jarak dari penyebrangan 2 dan 3 sekitar 250 M.
       Meskipun masih disungai yang sama, keadaan penyebrangan ketiga cukup dalam, karena ketinggian air sampai ke pangkal paha orang dewasa. Para pendaki mesti berhati-hati saat melalui penyebrangan ketiga ini. Jika ada keraguan sebaiknya menggunakan tali (webbing).
      Setelah melalui penyebrangan ketiga, jalur selanjutnya meyusuri sisi kiri sungai ranteangin dengan jalur bongkahan batu sungai dan sekali melewati kebun warga kemudian turun kembali ke bibir sungai. Sekitar 400 M berjalan dibibir sungai, akan ditemukan percabangan dua sungai yakni, Sungai Mosembo disebelah kiri dan Sungai Tinukari desebelah kanan. Jalur pendakian akan mengarah ke sebelah kiri yaitu ke sungai mosembo. Selanjutnya pendaki harus menyebrang sungai mosembo dengan lebar 20 M dan kedalaman normal diatas lutut. Setelah meyembrangi sungai Mosembo maka selesailah seluruh penyebrangan
      Jalur selanjutnya yaitu mulai menanjak kearah sebuah kebun coklat, lalu kembali menanjak kearah kebun cokelat selanjutnya sampai menemukan sebuah pondok yang juga merupakan POS 1. Jarak dari pinggir sungai ke POS 1 sekitar 100 M.

Jalur Alternatif ke Pos I
Saat pusing penghujan dimana ketinggian air diatas normal atau setinggi pinggang orang dewasa maka ada alternatif jalur yang bisa di tempuh untuk mengurangi penyebrangan yang sebelumnya 4 kali menjadi 2 kali dan menyebrag 1 kali kecil. Jalur ini biasa ditempuh pendaki untuk menghindari penyebrangan kedua dan ketiga yang cukup lebar dan dalam. Saat level air sungai rantengain naik, penyebrangan ketiga bahkah sulit dilewati, sehingga aliternatif jalur ini bisa meninimalisir hambatan saat proses penyebrangan sungai. Adapun jalur yang bisa ditempuh sebagai berikut
Saat pendaki akan berbelok kanan ke penyebrangan kedua, terdapat jalur lurus menanjak yang akan mengarahkan anda menyipir sungai pada sisi tebing. Meskipun sebuah tebing namun.....<BERSAMBUNG>

POS 1
Tempat ini merupakan sebuah rumah kebun milik Pak Jummarin. Pondok di POS 1 merupakan milik Pak Jummarin, seorang petani cokelat asal sinjai. Beliau telah berkebun sejak tahun 2004. Pos 1 terletak 150 Meter diatas titik percabangan Sungai Mosembo dan Sungai Tinukari. Pos 1 memiliki ketinggian 182 MDPL. Suhu ditempat ini terbilang normal, sama seperti suhu di desa tibukari. Ditempat ini terdapat sumber air yang disalurkan melalui selang yang berasal dari mata air diatas bukit. Kebanyakan pendaki kadang bermalam ditempat ini baik saat naik ataupun saat turun gunung.

2.    POS 1 – POS 2
      
       Dari POS 1 jalur selanjutnya mengarah kekanan dengan melewati jalan setapak dengan tanjakan landai. Sebagai catatan untuk para pendaki, setelah lepas dari POS 1, harap berhati-hati karena ada juga jalur yang mengarah keatas dan cukup menanjak namun bukan menuju ke POS 2 melainkan hanya jalur perambah kayu. Jalur sebenarnya yaitu setelah lepas dari POS 1 mengambil jalur kanan dengan tipe tanjakan landai dengan menyusuri area kebun. Jalur akan menuntun memasuki hutan teduh dengan tipe menanjak bervariasi antara 20o s.d 30o. Kurang lebih 45 menit menanjak sampai pada titik tanjakan, kemudian jalur cenderung banyak menurun yang menandakan bahwa POS 2 sudah dekat.
Setelah melewati perjalanan 1,5 Jam para pendaki akan melewati hamparan perkebunan yang luas yang merupakan kebun milik Pak Basir. Ditengah kebun tersebut terdapat sebuah Pondok yang cukup luas yang juga merupakan POS 2.
       Untuk perjalanan yang dimulai pagi dari Desa Tinukari, maka pendaki sangat disarankan untuk menginap saja di POS 2 dan melanjutkan perjalanan esok hari. Para pendaki tidak perlu repot-repot mendirikan tenda, karena rumah kebun di POS 2 tersebut cukup untuk menampung 50 pendaki, bahkan dapur dan peralatan masak milik Pak Basir juga sering digunakan pendaki selama berada di POS 2.
POS 2
       Pos 2 merupakan sebuah rumah kebun milik Pak Basir. Tempat ini memiliki ketinggian 394 MDPL Dia merupakan seorang petani cokelat asal tanah toraja. Pak Basir telah mengelola cokelat sejak tahun 2003. Sampai saat ini luas lahan perkebunannya mencapai 4 Ha. Selain tanaman cokelat, Pak Basir juga mengembangkan tanaman cengkeh, lada, aren, langsat, durian, dll.
       Pos 2 merupakan lokasi idola bagi para pendaki. Tempat ini selalu dijadikan tempat menginap para pendaki baik saat pergi maupun pulang. Rumah kebunnya sangat luas, mampu menampung 50 pendaki. Selain itu pekarangannya juga mampun menampung 20 tenda. Ditempat ini terdapat sumber air yang melimpah. Pendaki akan dimanjakan ditempat ini. Bagaimana tidak ? Di rumah kebun milik pak basir tedapat sumber listirk berupa genset yang setiap malam di nyalakan sehingga suasana terang benderang dan pendaki dapat mengisi daya handpone atau kamera. Selain itu terdapat juga TV dengan puluhan siaran yang membuat para pendaki tetap update berita-berita terbaru. Di beberapa titi ditempat ini juga terdapat signal Telkomsel. Meskipun signalnya tidak begitu kuat tapi cukup membantu pendaki dalam berkomunikasi.
       Kesenangan lain yang diberikan di tempat ini adalah melimpahnya sayuran disekeliling kebun. Ada papaya, kelor, labu, daun serei, cabe rawit dll. Saat anda menginap di tempat ini, tidak perlu repot-repot menggunakan bahan bakar dan peralatan masak, karena dapur Pak Basir menyiapkan semua fasilitas itu. Anda bisa menggunakan kayu bakar secukupnya, peralatan masak dan peralatan makan. Jika anda beruntung, saat malam tiba Pak Basir akan menyuguhkan sajian “Air Sore” khas Pos 2 dari Pohon Aren. Sajian ini tidak akan terlupakan bagi para pendaki apalagi saat malam semakin larut dan dingin semakin menusuk maka “Air Sore” inilah yang akan mengantar tidur anda.


3. POS 2 – POS 3
      
       Hari selanjutnya adalah menuju Pos 3. Pendaki disarankan untuk memulai perjalanan paling lambat jam 9 pagi mengingat jarak tempuh yang cukup jauh juga istirahat yang akan sering dilakukan. Jalur ke POS 3 dimulai dengan menuruni kebun Pak Basir lalu menuju kebun selanjutnya milik Pak Ramadan yang jaraknya sekitar 50 M. dari kebun kedua ini perjalanan akan diteruskan menyusuri jalan setapak dengan elevasi 35o - 40o. Tipe hutan dan jalur hampir sama dengan suasana rimbun dan jalan setapak yang terus menanjak sampai menemukan hutan terbuka yang cukup panas dengan jalan yang sedikit becek dan tergenang. Jalan terbuka ini sekitar 100 M dan tidak menanjak bahkan agak menurun. Selanjutnya akan kembali masuk ke hutan rimbun dengan jalur menurun.
       Saat kembali memasuki hutan rimbun, sekitar 50 M, pendaki tidak boleh terlena mengikuti jalur yang terus menurun, karena pendaki harus berbelok kiri dan menajak dengan memperhatikan tanda jalur atau string line. Jalur selanjutnya yaitu banyak menanjak dengan elevasi 35o - 40o . tipe hutan yang dilewati masih rimbun dan sejuk. Sepanjang jalan akan ditemui 2 kebun yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Setelah 2,5 – 3 Jam berjalan, pendaki akan sampai di POS 3.
      
POS 3
Pos 3 berada pada ketinggian 692 MDPL. Posisi POS 3 berada di tengah jalur pendakian dengan kondisi sedikit terbuka dan agak miring. Ditempat ini terdapat sumber air yang letaknya  7 meter dibawah POS 3. Umumnya para pendaki hanya istirahat siang ditempat ini. Jarak tempuj dari Pos 2 ke Pos 3 yaitu 2,6 Km.

4. POS 3 – POS 4

Perjalanan ke POS 4 masih dengan tipe jalur yang sama, diawali dengan melewati tanjakan 25o - 30o­­
Dan disisi kanan merupakan lembah, dan disisi kiri merupakan tanjakan. Jalur setelah Pos 2 dan seterusnya, merupakan bekas jalur perusahaan kayu (PT. HBI) yang beroperasi cukup lama di pegunungan mekongga. Saat ini jalur tersebut tidak digunakan lagi dan jalur tersebut ditetapkan menjadi jalur konvesional untuk para pendaki ke gunung mekongga. Antara POS 3 dan POS 4 ditempuh dengan medan bervariiasi. Setelah 1,5 jam perjalanan dari POS 3, jalur agak mulai menurun kurang lebih 300 M dan kembali menanjak 40o - 45o . perjalanan dari POS 3 ke POS 4 sudah memasuki jalur tumbuhan semak. Jalur yang akan dilewati 90% ditumbuhi tanaman semak yang diantaranya berduri, sehingga para pendaki sangat diwajibkan untuk memakai baju lengan panjang dan celana panjang serta penutup wajah sampai telinga. Selain semak belukar yang akan dihadapi, para pendaki juga akan mulai merasakan sengatan pacet (lintah loreng) yang tiba-tiba menempel dikulit terutama diwilayah yang berbau busuk seperti kaki, selangkangan, ketiak, dll. Oleh karena itu para pendaki mesti menyiapkan air tembakau sebelum berjalan untuk meminimalisir sengatan pacet. Antara POS 3 dan POS 4 hanya terdapat 1 titik air yang dipastikan mengalir sepanjang musin terkecuali musim hujan yang terdapat banyak titik air.
Populasi semak belukar mesti diperhitungkan oleh para pendaki karena akan memperlambat gerakan. Sehingga parang tebas harus dibawa serta dipendakian gunung mekongga. Hampir tidak ada pemandangan jauh yang dapat dilihat karena sepanjang jalan hanya hutan rimbun yang menutupi pandangan. Untuk perjalanan normal, sekitar 3,5 s.d 4 Jam, para pendaki akan sampai di POS Tugu Sulawesi

POS Tugu Sulawesi
POS Tugu Sulawesi merupakan sebuah tempat yang cukup luas dan rata yang dapat menampung 12 tenda. Di tempat ini terdapat sumber air mengalir yang jalarknya 20 Meter kedepan. Di POS ini juga terdapat sebuah tugu kecil yang bagian atasnya berbentuk Pulau Sulawesi. Para pendaki menyebutnya tugu Sulawesi. Untuk perjalanan yang dimulai pagi dari POS 2, maka sangat disarankan untuk menginap di POS ini.

POS 4
       Pos 4 berada pada ketinggian 1109 MDPL (Meter diatas permukaan laut). Suhu tertinggi di tempat ini 250 C dan suhu terendah 200 C. Disekeliling Pos 4 hanya tumbuh tanaman semak dan alang-alang. Lokasi Pos 4 hanya berada ±100 Meter diatas Pos Tugu Sulawesi. Kondisi Pos 4 sangat sempit dan hanya mampu menampung 1 tenda sedangkan di Pos Tugu Sulawesi dapat menampung puluhan tenda. Oleh sebab itu bagi pendaki rombongan sebaiknya menginap saja di Pos Tugu Sulawesi.
       Pos 4 berada di tepi Air terjun yang cukup besar. Lokasinya cukup lembab karena berada dekat dengan sumber air yang mengalir deras sepanjang tahun. Penempatan Pos 4 dilokasi ini karena sangat dekat dengan air yang jumlahnya melimpah. Namun belakangan para pendaki lebih memilih untuk menginap saja di Pos Tugu Sulawesi.

5.    POS 4 – POS 5
       Hari selanjutnya, para pendaki disarankan untuk memulai perjalanan paling lambat jam 9 pagi. Jalur yang akan dilewati hari ini tidak berbeda jauh dengan kemarin, karena masih berjibaku dengan jalur HBI yang ditumbuhi semak belukar dan populasi pacet yang berada disepanjang jalan. Setelah lepas dari POS 4, kurang lebih 10 Menit akan ditemukan sebuah Air jatuh yang cukup besar. Sumber air ini tidak pernah kering dan mengalir sepanjang tahun. Umumnya para pendaki berhenti sejenak untuk minum, mengisi wadah air atau berfoto.
       Setelah lepas dari sumber air ini, jalur selanjutnya yaitu menyipir kanan melewati bebatuan yang akan menyulitkan para pendaki sebab tanah dan batunya licin serta melewati saluran air dan tanaman semak yang tumbuh subur juga pacet yang tersebar sepanjang jalan.
       Dahulu, saat perusahaan PT. HBI meninggalkan lokasi ini, jalur pendakian cukup terbuka dan luas. Namun seiring perjalanan waktu, juga kurangnya frekuensi pendakian di Gunung Mekongga yang membuat populasi semak belukar semakin rapat dan terkadang menutupi jalur pendakian jika dalam kurun beberapa bulan tidak ada pendaki yang melewati.

       Antara POS 4 dan POS 5, tingkat kerapatan tanaman semak semakin tinggi. Pergerakan akan semakin lambat. Kondisi ini harus dicermati oleh pendaki dengan mengatur langkah dan waktu istirahat atau break. Disarankan untuk membawa lebih dari satu parang tebas untuk saling bergantian membersihkan jalur. Tanaman semak tumbuh subur disenpajang jalan, sehingga jika pendaki memaksakan untuk menerobos bias berakibat carreier atau kakinya terkait oleh tanaman yang menjalar. Untuk melewati jalur semak dibutuhkan kesabaran dan ketenangan. Jalur tanaman semak inillah yang menjadi salah satu tantangan di pegunungan mekongga.

Disepanjang jalan terdapat banyak sumber air, namun yang mengalir sepanjang tahun hanya 2 titik air yaitu kali kecil. Untuk sampai di POS 5 pendaki akan melewati beberapa patahan kali dimana pendaki harus turun kebawah dan naik kembali ke jalur. Setalah melewati beberapa patahan, para pendaki akan menemukan patahan yang panjang, dimana ujung dari patahan tersebut adalah POS 5. Waktu tempuh normal dari POS 4 ke POS 5 adalah 3 – 3,5 Jam.
Pos 5 merupakan sebuah tempat terbuka yang dapat menampung 7 tenda dan terdapat sumber air yang mengalir tepat didepannya, namun untuk saat-saat tertentu aliran airnya tidak sampai menjangkau POS 5 dikarenakan curah hujan yang kurang, sehingga pendaki harus sedikit menyusur ke pangkal alirannya diatas.
       Umumnya para pendaki hanya beristirahat siang ditempat ini. Ditempat ini juga sangat layak untuk mendirikan tenda baik saat naik maupun saat turun gunung yang disesuaikan dengan waktu. POS 5 dijuluki Pos Foya-Foya, karena biasanya para pendaki mengahbiskan logistic di POS 5 saat sudah dari puncak dan akan turun ke desa.

6.  POS 5 – POS 6
       Perjalanan ke POS 6 diawali dengan kembali memasuki jalur HBI yang ditumbuhi semak belukar dengan sudut tanjakan berkisar antara 400 s.d 450 . seperti halnya jalur sebelumnya, tanaman semak didominasi oleh pakis hutan, alang-alang, tanaman berduri dan tanaman merambat lainnya. Populasi tanaman tersebut tumbuh subur dan menjadi penghambat pergerakan pendaki. Semak-semak tersebut akan sulit diterobos karena akan kembali menjerat kaki pendaki atau carrier. Jika diterobos resikonya anggota tubuh terkena goresan atau cover carrier yang robek. Untuk bulan-bulan yang sepi pendaki, jalur dari POS 3 ke POS 6, 70 % tertutup semak-semak dan praktis perjalanan para pendaki seakan berada di lorong semak-semak yang tak berujung, meskipun sesekali terdapat tempat terbuka namun hanya beberapa langkah kemudian pendaki akan kembali memasuki lorong semak-semak.

       Seperti halnya dijalur sebelumnya, perjalanan ke POS 6 berada pada jalur teduh yang sepanjang jalan terdapat hamparan hutan rapat dengan jenis kayu-kayu unggulan. Selain memperhatikan pijakan yang tidak rata, pendaki harus memperhatikan tanaman duri yang kadang tak terlihat dan terasa saat sudah menempel di kulit. Selain itu para pendaki juga harus mewaspadai pacet yang juga stndby di semak-semak untuk melompat di badan pendaki dan baru terasa saat salah satu bagian tubuh terasa nyeri karena sudah ditempeli oleh pacet.
       Meskipun jalurnya agak tertutup, namun para pendaki dapat melihat alur jalan yang masih tampak membentuk di antara kumpulan semak-semak, oleh karena itu sekali lagi parang tebas sangat berguna dipendakian gunung mekongga. Setelah berjalan 1 Jam dari POS 5, pendaki akan menemukan longsoran besar yang dimana jalurnya berada ditengah longsorang. Para pendaki harus turun ke longsoran dan mengikuti alur  longsoran tersebut sekitar 50 Meter.
       Setelah keluar dari jalur longsoran, pendaki akan kembali lagi ke jalur semak-semak dan sesekali akan menemukan tempat terbuka dan kembali lagi ke jalur semak-semak. Sekitar 45 Menit kemudian kana ditemukan sebuah simpangan besar yang dahulunya merupakan lokasi transit kayu gelondongan sebelum diangkut ke desa. Jalur lurus merupakan jalan ke sumber air yang jaraknya 30 Menit dengan kecuraman 500. Sedangkan jalur kiri merupakan jalur pendakian yang menuju POS 6. Di tempat ini merupakan lokasi yang sangat terbuka dimana kawasan puncak mekongga sedikit terlihat jika cuaca cerah. Para pendaki umumnya beristirahat sejenak ditempat ini sebelum melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalur kiri.
       Setelah lepas dari simpangan, para pendaki akan melewati jalur yang sangat terbuka sekitar 200 M menanjak dengan sudut tanjakan 500 s.d 600 kemudian akan kembali memasuki jalur tertutup dengan model tanjakan yang sama. Dijalur ini keadaanya cukup bervariasi dan didominasi oleh jalur yang terbuka sehingga kondisi psikologis pendaki akan pulih setelah sebelumnya banyak melewati jalur tertutup. Dijalur ini cukup membuat perasaaan pendaki senang dan teduh karena tiupan angin dan kabut pegunungan silih berganti bertiup disepanjang jalan.
       Akhirnya, setelah berjalan sekitar 1 Jam dari simpangan, akan ditemukan sebuah tempat terbuka yang luas yang terdapat jurang disisi kiri jalan HBI. Umumnya pendaki singgah ditempat ini sambil mengabadikan gambar dengan latat pegunungan mosembo. Oleh Pencinta Alam, Tempat ini dinamakan Puncak HBI, karena merupakan titik tertinggi dari jalur HBI. Saat cuaca cerah, dari tempat ini akan tampak hamparan pegunungan mekongga dari wilayah utara dan gunung mosembo disebelah barat laut.
       Dari puncak HBI perjalanan dilanjutkan dengan menuruni jalur kearah timur. Jalur menurun tersebut cukup terjal dan terbuka. Setelah menuruni sekitar 130 M, pendaki akan mulai masuk kembali ke jalur semak sekitar 70 M dengan tipe jalur banyak menurun. Setelah itu pendaki harus terus memperhatikan sisi kanan, karena jalur  pendakian akan berbelok kanan dan menanjak, sementara jalur lurus bukan merupakan jalur pendakian. Jalur belok kanan tersebut ditandai dengan string line dan pita.
       Selanjutnya pendaki akan kembali memasuki jalur semak-semak yang sempit dengan posisi menanjak 350. Setelah berjalan sekitar 20 Menit akan ditemukan sebuah genangan luas dan berlumut yang banyak terdapat pohon tua dan pohon mati. Genangan ini luasnya sekitar 400 M2 dan airnya berwarna kemerah-merahan dan tidak pernah kering total. Oleh pendaki, tempat ini dinamakan Danau Coca-Cola. Nama itu diambil karena warna airnya seperti Minuman Coca-Cola. Disekitar tempat ini terdapat lokasi datar yang dapat menampung 10 Tenda. Tempat inilah yang dijadikan sebagai POS 6.
       Untuk perjalanan yang dimulai pagi hari dari POS 4, maka sangat disarankan untuk menginap di POS 6. Umumnya pendaki selalu menginap di POS 6 sebelum melanjutkan perjalanan esoknya ke arah hutan lumut. Meskipun airnya berwarna merah, tapi tidak menjadi masalah bagi pendaki, sepanjang airnya aman untuk dikonsumsi. Semua pendaki yang menginap POS 6 pasti menggunakan air dari Danau Coca-Cola tersebut untuk memasak.

POS 6
       Pos 6 berada di ketinggian 1890 MDPL dengan suhu tertinggi 200 C dan suhu terendah 150 C. Oleh pendaki Pos 6 biasa disebut Pos Danau Coca-Cola. Nama itu diberikan karena tidak jauh dari Pos 6 terdapat sebuah Telaga yang luasnya sekitar 400 M2 dan terdapat air yang hampir tidak pernah kering sepanjang tahun. Karena adanya sumber air tersebut sehingga tempat ini dijadikan salah satu Pos pendakian ke puncak Gunung Mekongga.
       Posisi Pos 6 masih berada di tengah jalur HBI. Ditempat ini masih tampak sisa jalan yang dahulu pernah dilalui oleh kendaraan besar. Meskipun sudah banyak yang tertutup semak namun bisa dibayangkan lebar jalan sekitar 25 Meter. Kebanyakan pendaki selalu menginap ditempat ini dan mengkonsumsi air dari Danau Coca Cola. Meskipun airnya berwarna kemerah-merahan namun dipastikan airnya aman untuk dikonsumsi. Warna kemerah-merahan tersebut berasal dari kayu mati yang sudah hancur dan membusuk ditambah dengan keberadaan lumut diseluruh permukaan danau sehingga mempengaruhi warna dasar air danau menjadi kemerah-merahan. Sangat disarankan untuk para pendaki untuk tidak melakukan aktifitas MCK di pinggir atau di tengah danau karena sumber air ini bukan air mengalir melainkan sebuah genangan yang mudah tercemar. Apabila pendaki menginap di tempat ini, sangat juga disarankan untuk segera berisitirahat untuk memulihkan stamina dan mempersiapkan perjalanan esok yang membutuhkan kekuatan dan ketahanan karena akan memasuki hutan lumut dengan medan menanjak dan menurun terjal.

7. POS 6 – POS 7
       Pagi harinya setelah setelah sarapan dan mengemas seluruh peralatan dan perlengkapan. Jam 8 pagi adalah waktu yang disarankan untuk memulai perjalanan. Jalur hari ini pendaki masih akan melewati jalur semak-semak yang cukup licin dan berbatu karena merupakan jalur aliran air. Para pendaki harus berhati-hati melewatinya karena selain memperhatikan semak-semak, juga harus memperhatikan jalan karena pendaki akan mudah terpeleset.
Sekitar 10 Menit melewati semak-semak tersebut, akan ditemukan sebuah tempat yang cukup luas di tengah jalan HBI. Oleh pendaki, tempat ini dinamakan Camp Gelondongan. Ditempat ini dahulunya merupakan penampungan kayu gelondongan sebelum diangkut oleh truk kayu. Beberapa pendaki biasanya menginap ditempat ini namun tetap mengambil air di Pos 6.
Sangat disarankan para pendaki untuk menginap saja di POS 6, karena ditempat ini (Camp Gelondongan) tidak terdapat sumber air.
       Setelah lepas dari Camp Gelondongan. Jalur selanjutnya pendaki akan kembali melalui semak-semak namun tidak begitu rapat seperti jalur sebelumnya. Jalurnya sedikit menanjak dan kadang menyipir. Sekitar 7 Menit berjalan, akan sampailah pendaki di pintu gerbang hutan lumut. Tempat ini ditandai dengan keluarnya pendaki dari jalur semak-semak. Tempat ini juga menandakan bahwa pendaki sudah lepas dari jalur HBI dan akan memasuki jalur pendakian hutan lumut.
Pintu gerbang ini ditandai dengan jalur yang terbuka dan berbelok kanan 900.
       Memasuki jalur hutan lumut, pergerakan pendaki menjadi lebih leluasa, karena tidak ada lagi semak-semak yang tumbuh disepanjang jalan seperti halnya di jalur HBI sebelumnya. jalur yang dilewati diawali dengan hutan rapat yang sejuk dan tanahnya sebagian besar ditumbuhi lumut. Jalurnya agak menanjak dengan elevasi  300 – 400. Selain memperhatikan alur jalan yang terbentuk di tanah, pendaki harus juga memperhatikan tanda jalur berupa plat, tali raffia, pita, kain dll yang warnanya kontras dengan keadaan sekitar. Disepanjang jalur hutan lumut posisi tanda jalur sudah disebar oleh seluruh pendaki yang telah melewati jalur ini sehingga para pendaki cukup dimudahkan tinggal bagaimana konsentrasinya dalam melihat jalur pendakian.
       Sangat disarankan sebelum pendaki memasuki kawasan hutan lumut agar parang tebas tetap disiagakan untuk memberi tanda tebasan di pohon yang berada pada jalur pendakian. Meskipun sudah ada tanda jalur berupa string line namun tidak ada salahnya member tebasan kecil dipohon untuk memudahkan pendaki saat perjalanan pulang nantinya.
Perjalanan ke Pos 7, akan dilewati dengan menanjak landai ke arah tenggara dengan melewati medan bervariasi menajak, datar dan sedikit menurun mengikuti jalan sesuai dengan tanda jalur. Disepanjang jalan hanya akan disaksikan pepohonan yang rimbun, lumut-lumut yang menutupi tanah dan batang pohon. Hawa dingin mulai terasa seiring ketinggian yang semakin bertambah. Namun dengan terus melangkah, hawa dingin akan terbendung oleh panas tubuh.
Sekitar 2. 5 Jam perjalanan dan Pos 6, pendaki akan sampai di Pos 7 yang terletak di atas sebuah bukit kecil. Pos 7 berada pada ujung tanjakan kecil dan berada pada ditengah jalan.

POS 7
Pos 7 berada para ketinggian 2352 MDPL. Suhu tertinggi di tempat ini 150 C dan Suku terendah 100 C.  Pos 7 merupakan tempat terbuka yang berada diujung tanjakan kecil di tengah hutan lumut. POS 7 memiliki area yang tidak begitu luas sekitar 10 M2 dan hanya bias menampung 1 tenda saja. Terkadang ada juga pendaki yang menginap di tempat ini. Di Pos 7 tidak terdapat sumber air. Pendaki yang menginap di tempat ini membawa air dari Pos 6.
Oleh Pendaki, Pos 7 juga dinamakan Pos Batu Meriam. Disebelah kanan tempat ini terdapat sebuah batu yang menyerupai meriam yang posisinya menghadap ke barat. Oleh pendaki, arah baru meriam ini dianggap menghadap tepat ke Kiblat. Disebelah kiri Pos 7 terdapat sebuah bongkahan batu besar yang meyerupai tebing yang bercelah dengan tinggi sekitar 9 Meter.  Untuk perjalanan normal dari Pos 6 yang dimulai jam 8 pagi, para pendaki akan sampai ditempat ini (Pos 7) sekitar jam 10.00. Oleh karena itu disarankan untuk tidak berlama-lama ditempat ini karena kondisi dingin dapat melemaskan otot.

8. POS 7 – POS 8
Perjalanan dari Pos 7 ke Pos 8 merupakan jalur terpanjang dan terberat di pendakian gunung mekongga. Kekuatan dan ketahanan para pendaki akan teruji di jalur ini. Berbeda dengan jalur Gunung-Gunung di luar Sulawesi, Gunung mekongga merupakan hamparan pegunungan yang terdiri dari ratusan bukit. Untuk mencapai bukit tertingginya, pendaki harus naik turun beberapa bukit dengan model yang hampir sama saat naik dan turun.
Perjalanan dari Pos 7 ke Pos 8, pendaki akan melewati beberapa bukit dengan tipe naik bukit dan turun lembah dengan medan yang cukup terjal. Setelah lepas dari Pos 7, pendaki akan turun terjal beberapa meter kemudian berjalan rata condong ke kiri lalu akan menemukan tanjakan panajang sebelah kanan dengan elevasi 600 – 700. Fisik pendaki akan teruji di tanjakan ini. Dengan beban carrier yang berat, pendaki harus tetap focus menjaga ketahanan dan keseimbangan badan. Tanjakan ini salah satu yang terberat di Pegunungan Mekongga. Para pendaki harus terus memperhatikan pijakan karena kondisi tanah merupakan batu kerikil yang mudah bergeser. Sangat disarankan agar para pendaki menjaga jarak antara satu dengan yang lainnya sekitar 10 Meter untuk menghindari apabila ada batu lepas atau kerikil yang menggelinding dari atas yang bisa mengenai pendaki dibawah.

Setelah melewati tanjakan ini, pendaki akan melewati jalur menyipir sekitar 10 M lalu kemudian akan masuk ke hutan rapat yang rimbun. Sekali lagi konsentrasi dan fokus harus tetap diutamakan dalam memperhatikan tanda jalur ditengah hutan lumut. Jalur selanjutnya akan dilewati dengan menanjak dengan kemiringan 400 – 500. Semakin menambah ketinggian, rasa dingin pun semakin menusuk, apalagi saat sudah melewati tengah hari. Saat-saat tersebut sangat membuat mental pendaki teruji karena semakin menambah ketinggian maka tiupan angin dan kabut dingin akan silih berganti berputar-putar disekeliling pegunungan.  Sepanjang melewati jalur ini suhu dingin dan kelembaban basah akan dirasakan para pendaki saat melewati rimbun pohon yang diselimuti lumut.
       Setelah 1 Jam berjalan dari Pos 7, akan ditemukan sebuah tempat terbuka yang banyak terdapat batu-batu cadas yang menjulang keatas. Posisi tempat ini seakan berada disebuah ketinggian, sehingga dahulunya tempat ini diyakini sebagai Puncak Gunung Mekongga. Tempat ini dinamakan Puncak Salah. Penamaan tersebut dikaranakan dahulu tempat ini diyakini sebagai Puncak dari Pegunungan Mekongga tetapi setelah dilakukan pengukuran koordinat dan ketinggian, tempat ini bukan puncak gunung mekongga. Kebanyakan pendaki selalu menyempatkan untuk berfoto di tempat ini yang juga memiliki landscape yang indah.
       Pendaki harus jeli melihat tanda-tanda jalur. Karena jarangnya pendakian ke Gunung Ini membuat tanda jalur tersembunyi dibalik dahan pohon atau tertutup lumut. Meskipun dalam keadaan lelah dan capek, konsentrasi tetap harus diutamakan dalam melihat jalur sebenarnya yang ditandai dengan adanya string line berupa pita berwarna sebab dijalur hutan lumut ini terdapat banyak jalur yang mirip dengan jalur pendakian. Jalur tersebut merupakan jalanan binatang saat berakifitas yang juga memenuhi hutan mekongga. Di Pegunungan mekongga, khususnya hutan lumut akan dijumpai kotoran Anoa disepanjang jalan. Jika beruntung pendaki akan melihat sosoknya yang berwarna hitam pekat dan bertubuh kerdil.
       Untuk pendakian di Gunung Mekongga sangat disarankan terus bersuara sepanjang jalan. Suara yang dibuat cukup dengan berbentuk kode, dengan maksud untuk tetap berkomunikasi dengan sesama pendaki saat berjalan. Selain itu maksud dari suara-suara tersebut untuk memberikan tanda kepada hewan atau binatang yang berada dijalur yang akan dilewati pendaki untuk menjauh dari jalur. Maksudnya adalah agar pendaki dan binatang tidak kaget saat berpapasan tiba-tiba.
       Pada beberapa kondisi, jika pendaki berjalan dalam keadaan tak bersuara, secara tiba-tiba berpapasan dengan Kera Hitam atau Anoa maka hewan tersebut akan kaget. Nasib baik jika hewan itu langsung lari menghindar namun nasib buruk jika hewan tersebut langsung tiba-tiba menyerang pendaki. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk terus bersuara. Sepanjang jalur pendakian ke Gunung Mekongga akan banyak dijumpai hewan-hewan endemic Sulawesi seperti Rangkong Sulawesi (Riticheros Cassidix), Anoa (Bubbalus Depresicornis), Kera Hitam (Macaca Creata) dll.
       Dijalur hutan lumut, Anoa banyak berkeliaran. Ini ditandai dengan banyaknya kotoran hewan tersebut disepanjang jalan, namun untuk melihatnya secara langsung agak sulit karena hewan ini sudah mendeteksi kehadiran manusia dari jarak 500 Meter sehingga ia akan menghindar ketika mendengar suara sayup-sayup manusia. Anoa merupakan hewan khas Sulawesi Tenggara dan sangat dilindungi oleh Negara, oleh karena itu dilarang keras melakukan penangkapan, berburu atau membuhuh hewan ini dengan alasan apapun. Karaktersitik hewan ini adalah binatang pasif. Ia tidak akan menyerang kalau tidak diganggu. Sangat disarankan juga untuk tidak memakai baju warna merah, karena pada keadaan tertentu, Anoa sangat sensifit jika melihat warna merah.
       Setelah melewati Puncak Salah, sekitar 15 Menit pendaki akan menemukan sumber air yang ditandai dengan sebuah tulisan yang dipasang di Pohon. Sumber air ini merupakan air terakhir di pendakian sehingga sangat disarankan untuk mengisi semua wadah air yang dibawa. Sumber air ini berada disebelah kanan jalur pendakian dan jaraknya sekitar 50 meter turun kebawah. Tempatnya berada dibawah akar pohon yang terdapat air kecil yang mengalir.
       Setelah itu pendakian dilanjutkan kembali dengan mengikuti arah string line. Sekitar 5 Menit akan ditemukan sebuah lokasi camp yang cukup luas dan dapat menampung 3 Tenda. Tempat ini seluruhnya diselimuti lumut dengan kondisi sangat dingin yang berkisar 120 – 160 pada siang hari dan 80 – 100 pada malam hari. Banyak nama untuk pos ini, tapi untuk menyeragamkan maka tempat ini dinamakan Pos Transit. Jarak tempuh normal dari Pos 7 ke Pos Transit sekitar 2.5 Jam. Untuk perjalanan dari Pos 6 yang dimulai pagi hari lalu tiba di Pos Transit ini antara Pukul 12.00 – 15.00 siang, maka pendakian boleh dilanjutkan menuju Pos 8. Namun apabila tiba di Pos Transit diatas Pukul 15.00, maka disarankan untuk menginap saja di Pos Transit ini dan melanjutkan perjalanan esok hari.
       Untuk perjalanan normal dari Pos 6 yang dimulai pagi hari, biasanya akan sampai di Pos Transit sekitar pukul 13.00 s.d 14.00. Biasanya para pendaki hanya istirahat di tempat ini. Perjalanan selanjutnya dilewati dengan mengikuti string line ke arah bawah dengan jalur sedikit menurun lalu naik kembali kemudian menyipir bukit lalu turun terjal dengan kemiringan 700. Di jalur ini konsentrasi pendaki terus dibutuhkan untuk mencermati jalur dengan seksama. Setelah melewati Pos Transit perjalanan ke puncak akan dilewati dengan menaiki dan menuruni bukit sebanyak 4 kali. Setelah bukit ke empat, bukit selanjutnya adalah puncak mekongga.
       Sebelum Sampai di Pos 8, akan ditemukan sebuah dua batu besar yang saling terpisah dan membentuk gerbang. Oleh pendaki, tempat ini dinamakan Pintu Gerbang Mosero-Sero. Gerbang batu ini terbentuk secara alami yang seakan menjadi pintu masuk pendaki sebelum memasuki kawasan puncak mekongga. Banyak cerita-cerita mitos tentang gerbang ini yang berkembang di masyarakat yang juga banyak diketahui pendaki. Namun cerita-cetita itu cukup dijadikan nasehat dan peringatan.
       Lepas dari pintu gerbang, sekitar  3 menit, pendaki akan sampai di Pos terakhir yaitu Pos 8. Ditempat ini merupakan titik terakhir pendakian yang artinya perjalanan selanjutnya yaitu ke Puncak Mekongga.  Pos 8 merupakan merupakan Pos terakhir di pendakian gunung mekongga.

POS 8
Tempat ini berada di ketinggian 2520 MDPL. Letaknya berada di bawah bukit yang puncaknya merupakan puncak mekongga. Pos 8 merupakan tempat yang luas dan tempat campnya menyebar dalam radius 15 Meter. Lokasi Pos 8 dapat menampung 10 – 12 Tenda. Meskipun berada di ketinggian namun suhu di tempat ini tidak seperti di Pos 7, Pos transit atau disepanjang jalan hutan lumut. Meskipun dingin namun tekanannya tidak terlalu menusuk sehingga tubuh masih bisa dikondisikan. Suhu ditempat ini berkisar antara 100 C – 130 C pada malam hari dan 130 C – 160 C pada siang hari.  Banyak pendaki menginap di tempat ini sebelum melakukan summit attack. Berbeda dengan kondisi di Pos 7 dan Pos Transit, di Pos 8 pendaki lebih leluasa beraktifitas dan bergerak. Lokasinya yang luas dan rata menjadikan penempatan posisi tenda, tempat memasak dan lokasi berkumpul lebih dapat diatur sedemikian rupa sehingga pergerakan pendaki saat berada di camp dapat efektif.

9. POS 8 – Puncak Mekongga

       Apabila anda ingin menyaksikan matahari terbit, maka mulailah perjalanan ke Puncak saat pukul 04.30 dini hari. Jika tidak, saat yang tepat untuk memulai perjalanan ke puncak adalah pukul  07.00. Bawalah perlengkapan secukupnya seperti air minum, snack, rokok, cemilan dan jangan lupa membawa kamera juga bendera organisasi dan merah putih. Sebaiknya sarapan dilakukan nanti setelah turun dari Puncak. Mulailah perjalanan dengan melihat string line di arah sebelah kanan. Perjalanan dilewati dengan menanjak terjal dengan kemiringan 600 s.d 700. Melewati akar-akar pohon, bebatuan dan sedikit memanjat. Bongkahan batu besar yang menjulang tinggi yang berada di sebelah kiri jalur pendakian akan dilewati satu per satu. Setelah berjalan 20 Menit, pendaki akan mulai melewati bongkahan-bongkahan batu dengan sedikit memanjat lalu melewati jalan setapak 15 Meter, lalu akan melewati batu-batu cadas yang runcing. Dari tempat ini Titik trianggulasi puncak sudah kelihatan berupa sebuah tugu.
Saat melewati batu-batu runcing tersebut, diharapkan berhati-hati dalam melangkah, berpijak dan berpegang. Pastikan pijakan dan pegangan anda tepat saat melangkah. Lewatilah bebatuan yang terdapat bekas-bekas pijakan sepatu. Fokuslah pandangan anda pada pijakan dan pegangan karena pemandangan puncak terkadang membuat pendaki hilang konsentrasi saat melewati bebatuan ini.
Setelah melewati bebatuan, sampailah anda di titik tertinggi Pegunungan Mekongga.


PUNCAK MEKONGGA
Puncak Mekongga berada pada ketinggian 2620 MDPL. Titik kordinatnya berada pada 03˚ 39’ 51,9”   LS - 121˚ 14’ 12,3” BT .Di daerah tertinggi pegunungan mekongga terdapat banyak bukit-bukit yang saling terpisah dengan ketinggian yang hampir sama, namun di tempat inilah titik tertinggi dari Pegunungan Mekongga. Posisi puncak mekongga sangat sempit. Para pendaki harus bergiliran untuk berfoto di trianggulasinya ataupun di titik manapun di wilayah puncak ini. meskipun sudah berada dipuncak, anda harus tetap berhati-hati saat melangkah karena wilayah puncak adalah kumpulan batu-batu yang terpisah-pisah. Saat cuaca cerah, pemandangan indah akan tersaji dari tempat ini. Dari kejauhan akan terlihat wilayah Kab. Kolaka, Kab. Bombana dan teluk bone serta hamparan pegunungan mekongga super berat jalurnya. Di tempat ini pula, signal telepon seluler dapat ditemukan. Biasanya hanya operator Telkomsel yang dapat dijangkau Handphone.
       Saat aktiftitas di puncak sudah selesai, saatnya anda turun kembali ke Pos 8 untuk sarapan dan mengemas seluruh perlengkapan untuk turun. Waktu 1 s.d 2 jam sudah cukup untuk anda berada di puncak. Disarankan untuk tidak berlama-lama dipuncak, karena jenis kabut di puncak mekongga apabila terlalu lama menyapu kulit bisa membuat terkupas.
       Setelah mengemas barang, maka selanjutnya pendaki akan menyusuri kembali hutan lumut dan menuju Pos 6 untuk menginap. Esoknya perjalanan bisa ditempuh sampai Pos 2. Lalu Keesokan harinya perjalanan bisa finish sampai kedesa tinukari.