Home » , , , , » Pendakian Gunung Bawakaraeng

Pendakian Gunung Bawakaraeng

 Pendakian Bersama Gunung Bawakaraeng 2830 MDPL
7 s/d 11 April 2007, Gowa, Sulsel

Gunung Bawakaraeng terletak di Kab. Gowa Prov. Sulawesi Selatan. Bawakaraeng mempunyai arti Bawa = Mulut,  Karaeng = Raja. Gunung Bawakaraeng memiliki ketinggian 2830 MDPL dan merupakan gunung tertinggi ke lima di Prov. Sulawesi Selatan setelah Gunung Latimojong 3440 MDPL, Gunung Tolangi Balease 3016 MDPL, Gunung Kambuno 2950 MDPL dan Gunung Lompobattang 2871 MDPL. Gunung ini merupakan gunung yang penuh mistis dan disakralkan oleh masyarakat setempat, apalagi di beberapa bulan hijriah seperti Zulhijjah, Syaban, Ramadhan. Hal tersebut di buktikan dengan banyaknya ditemukan makanan persembahan / sesajen di jalur pendakian yang di simpan di beberapa pohon besar dan beberapa aktifitas masyarakat yang sering melakukan ritual-ritual yang tidak lazim.
Pendakian di mulai hari Jum'ad tanggal, 6 April 2007 setelah sebelumnya tim menempuh perjalanan darat dari Kota Makassar melewati Kota Sungguminasa. Setelah itu melewati wilayah Malino. Sekitar 1 Jam perjalanan dengan 2 kali berganti kendaraan, sampailah kita di Dusun Lembana. Dusun ini merupakan titik awal pendakian ke Puncak Gunung Bawakaraeng

Dusun Lembana
Pendakian di mulai dari sebuah dusun bernana Dusun Lembana yang berada di kaki Pegunungan Bawakaraeng dimana sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari perkebunan dan pertanian. Tidak heran di sepanjang mata memandang terdapat banyak hamparan ladang sayuran dan petak-petak kebun yang diapit oleh beberapa anakan sungai yang mengalir deras. Dusun lembana berada di ketinggian, sehingga suhu dingin selalu menyelimuti tempat ini.

Dusun Lembana__Jumad, 6 April 2007
Tim mulai bergerak dari Dusun Lembana menuju ke Pos 1, tapi sebelum itu perlengkapan dan peralatan kembali di sortir untuk memastikan segala sesuatu telah terpenuhi. Rumah ini milik Daeng Supu, beliau sangat familiar dikalangan pendaki Gunung Bawakaraeng karena para pendaki selalu menyempatkan diri untuk menginap di rumahnya sebelum memulai perjalanan esoknya, beliau dan keluarganya pun sangat ramah dalam memfasilitasi para pendaki.

Jalur menuju Pos 1 Gunung Bawakaraeng
Menyusuri jalan masyarakat dimana terdapat banyak ladang-ladang sayur adalah pemandangan pertama setelah lepas dari Dusun Lembana, setelah itu melewati hutan pinus yang sepanjang jalan terdapat aliran air. Jalurnya agak menanjak dengan hawa yang sejuk.

Pos 1  Gunung Bawakaraeng
Sekitar 45 menit perjalanan sampailah Tim di Pos 1 Jalur Pendakiaan Gunung Bawakaraeng yang merupakan sebuah tempat yang cukup terbuka namun tidak terdapat sumber air. Di Pos ini juga terdapat percabangan jalur yang menuju ke Lembah Ramma.

Pos 2 Gunung Bawakaraeng
Pos 2 ditempuh sekitar 40 Menit perjalanan dari Pos 1. Pos 2 merupakan sebuah tempat terbuka yang tidak terlalu besar. Umumnya para pendaki hanya singgah sejenak di tempat ini untuk mengisi persediaan air. Di tempat ini terdapat sumber air, yaitu sebuah kali kecil yang mengalir di Pos 2.

Pos 3 Gunung Bawakaraeng
Tidak jauh dari Pos 2 sekitar 45 menit perjalanan akan ditemui Pos 3 yang merupakan sebuah tempat terbuka namun tidak terdapat sumber air. Dari Pos 1 sampai ke Pos 4 jalurnya mulai melewati hutan rapat dengan tingkat kelembapan yang tinggi dimana sudah banyak terdapat tanaman lumut yang menempel di pepohonan.

Pos 4   Gunung Bawakaraeng
Setelah menempuh perjalanan 1,5 Jam dari Pos 1, Tim tiba di Pos 4 yang merupakan sebuah tempat istirahat yang luas dan banyak terdapat sisa-sisa pohon tumbang. Ditempat ini sangat cocok untuk beristirahat lama karena tempatnya yang cukup rindang dan hawa pegunungan yang semakin menusuk.

Pos 5  Gunung Bawakaraeng
Sekitar 30 menit perjalanan yang cukup landai sampailah Tim di Pos 5. Tempat ini merupakan termpat yang paling terbuka luas dimana terdapat sisa-sisa pohon yang tumbang akibat proses seleksi alam dan sisa kebakaran hutan yang terjadi beberapa tahun lalu. Pos 5 memiliki sumber air yang letaknya 50 meter jalan menurun, karena itulah Tim pun menyempatkan diri untuk istirahat sambil makan siang ditempat ini.

Tim Pendakian Bersama ini terdiri dari : Ipink, Putri, Opal, Ucenk dari Kompala STIKOM Fajar Makassar serta Jallink dan Muh. Dagri Nizar dari KPA-Amcalas Kendari.

Jalur menuju Pos 6 Pegunungan Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 6, dilewati dengan melalui beberapa pohon tumbang dan kawasan hutan yang habis terbakar beberapa tahun lalu. Dijalur ini sangatlah terbuka dan tentu saja sangat dingin dengan tiupan angin yang berubah-ubah. Jalur antara Pos 5 dan Pos 6 akan banyak ditemukan Plakat In Memorian para pendaki pendaki yang meninggal di jalur ini. Untuk itu para pendaki sangat disarankan untuk memperhatikan kondisi ketahanan pada suhu sebelum mendaki di Gunung Bawakaraeng yang terkenal dengan cuaca dingin dan cepat berubah.

Pos 6 Pegunungan Bawakaraeng
Pos 6 berjarak sekitr 40 Menit perjalanan dari Pos 5. Ditempat ini cukup terbuka dan tidak terdapat sumber air, dari tempat ini kelihatan jelas jalur tracking berat ke arah Pos 7. Suasana dingin sangat terasa di tempat ini, hembusan angin terasa sangat menusuk apalagi di tambah dengan hujan yang mulai turun.

Pos 7 Jalur Pendakian Gunung Bawakaraeng
Untuk sampai di Pos 7 yang berjarak 40 Menit dari Pos 6, jalur dilewati sangatlah tracking dengan melewati hutan lumut yang rapat. Pos 7 merupakan sebuah tempat yang cukup luas yang berada di puncak sebuah bukit dan terdapat beberapa bongkahan batu besar. Pemandangan dari tempat ini sangatlah indah, dari tempat ini kita sudah dapat melihat puncak Gunung Bawakaraeng.

Pos 8 Gunung Bawakaraeng
Dari Pos 7 perjalanan mulai menuruni bukit yang cukup terjal, setelah itu sampai di sebuah pinggir kali kecil dimana kebanyakan pendaki mendirikan tenda di tempat ini untuk menginap. Di Pos 8 ini juga merupakan Pos transit yang mana barang-barang disimpan ditempat ini sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak besoknya.

Pos 9 Gunung Bawakaraeng
Setelah menginap di Pos 8, keesokan harinya Tim bergerak kearah puncak dengan hanya membawa perlengkapan seadanya. Sekitar 30 menit perjalanan terdapat Pos 9 yang lokasinya cukup terbuka namun tidak terdapat sumber air.

Jalur menuju Pos 10 Gunung Bawakaraeng
Setelah melewati Pos 9, terdapat hamparan tumbuhan eidelweiss yang tumbuh sepanjang jalur yang sangat terbuka ini. Dari jalur ini sudah tampak terasa kita berada di ketinggian karena dari kejauhan terlihat jajaran awan-awan yang berada di bawah.

Pos 10 Gunung Bawakaraeng
Pos 10 merupakan Pos terakhir sebelum puncak yang berjarak 1 jam dari Pos 8. Ditempat ini merupakan termpat yang sangat terbuka yang banyak ditumbuhi rerumputan dan juga merupakan tempat yang datar. Kebanyakan pendaki gunung selalu menginap di tempat ini karena dari tempat ini, Puncak Gunung Bawakaraeng sudah kelihatan dan hanya membutuhkan 15 menit saja untuk mencapainya.

Lapangan upacara sebelum puncak Bawakaraeng
Lapangan ini berada tepat di bawah puncak yang merupakan areal yang sangat luas dan mampu menampung banyak orang. Dari tempat ini sudah tampak tugu trianggulasi Puncak Bawakaraeng, sekitar 5 menit untuk sampai ke Puncak tersebut dari tempat ini.

Sumber Air di Puncak Bawakaraeng
Yang paling unik adalah adanya sumber air di dekat puncak yaitu sebuah lubang menyerupai sumur yang didalamnya terdapat air yang bersih dan jernih karena itulah tidak jauh dari tempat ini terdapat lokasi camp.

Puncak Gunung Bawakaraeng
Puncak Bawakaraeng merupakan tempat yang cukup luas dan sangat terbuka sehingga pemandangan pegunungan dan lautan tampak jelas dari tempat ini. Dari Puncak ini dapat juga terlihat Puncak Lompobattang yang masih dalam satu jajaran pegunungan.

Puncak Gunung Bawakaraeng

Puncak Gunung Bawakaraeng
Gunung Bawakaraeng termasuk gunung yang sering dikunjungi oleh banyak pendaki dari seluruh indonesia. Gunung ini sangat terkenal sehingga banyak study atau penelitian dilakukan di gunung ini, namun ada hal yang misterius di gunung ini yaitu hampir setiap tahunnya ada pendaki atau masyarakat yang menjadi korban atau meninggal dunia di jalur pendakian ke puncak Gunung Bawakaraeng Untuk itulah sangat disarankan bagi setiap pendaki yang akan melakukan perjalanan di gunung ini agar mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin sehingga dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.

Puncak Gunung Bawakaraeng

Jalur Menyipir Pegunungan Bawakaraeng
Salah satu alternatif sebelum kembali ke perkampungan yaitu melewati ramma. Kebanyakan pendaki sering melewati jalur ini. Jalur menuju ke ramma yaitu dari Puncak kembali ke Pos 7 lalu mengambil jalur menyipir jurang. Jalur ini merupakan jalur yang sangat berbahaya karena di sisi kanan merupakan jurang yang dalamnya 500 M. Para pendaki harus berhati-hati melewati jalur ini dan harus terus memperhatikan langkah karena jika lengah maka akan fatal akibatnya

Tallung Bawakaraeng
Perjalanan melewati sisi jurang ini sangatlah panjang sehingga mengharuskan kami untuk menginap di tengah perjalanan yaitu pada sebuah tempat yang berada tepat di sisi jurang. Ditempat ini terdapat sumber air yang letaknya 200 meter turun kebawah. Dari tempat ini, ramma sudah tampak namun masih membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tempat itu.

Menikmati kabut pagi
Tallung Bawakaraeng
Keseokan harinya setelah sarapan dan berkemas-kemas, perjalanan dilanjutkan kearah bukit Tallung yang menempuh perjalanan 2 jam dengan jalur yang masih sama dengan kemarin, melewati sisi jurang dengan hujan yang sangat deras dan tiupan angin yang menambah tantangan perjalanan ini.

Shelter di Bukit Tallung
Sampainya di bukit Tallung, kami istirahat sejenak di sebuah shelter sambil menghangatkan badan karena sepanjang jalan hujan turun sangat deras di sertai kabut tebal. Shelter ini sengaja dibuat untuk menjadi tempat peristirahatan para pendaki yang akan atau menuju ke ramma.

Lembah Ramma
Perjalanan kemudian menuruni lembah yang cukup terjal dan licin. Sekitar 30 menit sampailah kita di ramma. Ramma adalah sebuah lembah yang sangat luas dengan pemandangan yang sangat menakjubkan, dari tempat ini tampak jelas Puncak bawakaraeng dan Puncak Lompobattang.

Lembah Ramma
Lembah Ramma merupakan hamparan tanah datar yang sangat luas dan ditumbuhi oleh beberapa jenis sayur-sayuran dan juga di tempat ini merupakan titik utama mata air dari Sungai Jeneberang.

Bersama Tata Mandong (Lembah Ramma)
Di Lembah ramma tinggal seorang bapak tua yang dipercaya sebagai Juru Kunci dari Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang, bapak ini bernama Tata Mandong. Beliau tinggal di lembah ini sudah bertahun-tahun lamanya, bapak asli Jeneponto ini menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaga lembah ramma seorang diri namun kadang-kadang juga ada beberapa masyarakat desa sebelah bukit datang berkunjung dengan membawa makanan dan ada juga yang menitipkan hewan ternak seperti sapi untuk digembalakan di lembah ini.
Tata Mandong merupakan sosok yang sangat ramah dalam menyambut pendaki yang berkunjung ke Lembah Ramma. Meskipun tidak bisa berbahasa indonesia dengan lancar, komunikasi beliau dengan tamu-tamu yang berkunjung selalu memberikan kesan mendalam bagi para pendaki.

Tata Mandong - Juru Kunci Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang
Tata Mandong mengisi kesendiriannya dengan bermain rebab, yaitu sebuah alat musik yang dibuat sendiri dan dimainkan saat tengah malam yang sunyi senyap sehingga kami pun terbangun saat beliau memainkan alat musik tersebut. Tinggal sendirian di tengah lembah yang sunyi bukanlah hal yang mudah. Jauh dari keluarga, jauh dari kebisingan, jauh dari segala permasalahan kehidupan, Tata Mandong menghabiskan hidupnya untuk menjaga amanah sebagai Juru Kunci Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang.
Bagi orang biasa, kehidupan seperti itu tidaklah mudah. Tapi buat Tata Mandong, mungkin seperti itulah kesempurnaah kehidupan. Saat hari-hari bermain dengan deru dan riuh suasana alam yang silih berganti menyelimuti Lembah Ramma. Kesendirian Tata Mandong pun terobati tatkala puluhan bahkan ratusan pendaki dari seluruh Indonesia menyempatkan mampir dan menginap di lembah yang pada malam hari suhunya bisa mencapai 7 derajad C. Kesepian yang dirasakan sontak berubah menjadi meriah ketika para pendaki bercengkrama dan meluapkan kesenangan saat merasakan dinginnya Lembah Ramma ini.

Bersama Tata Mandong (Lembah Ramma)
Setelah menginap di lembah yang sangat dingin ini, keesokan harinya kami berkemas kemudian berpamitan pada Tata Mandong. Jalur perjalanan pulang, kami kembali menanjak menuju Bukit Tallung.

Jalur kembali ke Bukit Tallung

Jalur menuju Dusun Panaikang
Kemudian memasuki kawasan hutan cemara untuk menuju kesebuah dusun bernama Panaikang. Perjalanan yang ditempuh sampai ke kampung selama 4 Jam dimana tampak lereng Gunung Bawakaraeng dan alur-alur sungai Jeneberang juga terdapat kawasan persawahan yang sangat luas dan subur. Sampainya di Dusun Panaikang, kami pun menyewa kendaraan untuk kembali Ke Kota Makassar..
__________________________________________________________________________________

Film Pendakian Gunung Bawakaraeng